Dulu

Mentari pagi menyembul cerah
Sinarnya membelai wajah suram itu
Berharap sesak di dadanya menguap
Tapi ia tahu
Hanya satu mentari baginya
Yang mengubah cerahnya
menjadi mendung kelam
Bulir-bulir keresahan
menggerusnya perlahan
Ia rindu akan ucapan itu
Ia rindu akan rasa nyaman itu
Ia rindu dengan irama jantung itu
Kini tak sama lagi
Terlarut dalam kenangan
yang terlalu menyesakkan dada
Namun kini tak bisa lagi
Derasnya dingin yang menjalar
seolah mengatakan
Mentari itu tak pernah ada
Pedih sekali

Comments

Popular Posts