Under My Skin

Untuk beberapa waktu lalu, atau mungkin berabad-abad lalu, aku merasa begitu angkuh. Yeah, awalnya kukira semua itu untukku, untuk semua harapanku. Melambungkanku begitu tinggi. Ego telah membutakanku. Hingga akhirnya semua itu terungkap. Mendadak keangkuhanku hilang, lenyap. Menguap begitu cepat. Mendadak hatiku mati rasa. Seolah sebuah kepingan besar hilang dari sana begitu saja. Bagai kehilangan arah, aku mulai menyesali. Betapa kepercayaan diri bisa menyusupi hatiku begitu saja. Keangkuhanku menutupi mata. Membuatku berpikir awan di pihakku selamanya.

Angkuh yang menyelimutiku beranjak pergi. Mati. Tinggal keraguan yang semakin lama merayapiku. Merasa begitu kecil, begitu rendah diri, pesimistis. Mungkin aku memang paranoid tentang cinta. Tapi memang benar, cinta tak pernah benar-benar memihakku. Kupikir, lagi-lagi aku hanya berilusi. Hidup di bawah bayang-bayang keinginanku. Sungguh gagasan ini mulai masuk akal, aku terperangkap dalam imajinasiku sendiri. Kehilangan harapan, aku meraba-raba. Tersentuh olehku sebuah luka, tempat tadinya harapan itu tinggal.

Aku merasa begitu kecil, lebih kecil daripada yang kubayangkan. Aku mencoba mulai saat ini, berusaha berpikir realistis. Bahwa awan tak selamanya berada di pihakku. Aku ingin belajar menerima, dari siapapun itu. Aku ingin, belajar memberi bagi semuanya.

Aku tak ingin berharap lebih lagi, takut akan jatuh lagi. Tidak. Tak akan kubiarkan ego menguasaiku lagi. Tidak hari ini, tidak juga hari yang akan datang.

Aku tak menyerah. Aku hanya bersandar lebih banyak, menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Biarlah Dia yang memutuskan yang terbaik bagiku. Agar nantinya aku tidak kecewa sebesar lalu, jika yang terjadi tidak sesuai harapanku. Aku tak mau terbang terlalu tinggi, atau tenggelam terlalu dalam.

Aku bergolak dengan pikiranku, hatiku, dan keinginanku. Mereka berbeda, jauh sangat berbeda.Aku mencoba lagi untuk menerima kenyataan ini.

Aku mungkin tak berharap banyak lagi kepadamu, kawan. Tapi ijinkan aku memberimu, melanjutkan apa yang sudah aku mulai. Hingga saatnya nanti Tuhan telah memilih penggantimu. Hanya satu permintaanku, kawan. Biarkan aku merajut kembali asaku atas namamu. Mencoba memberimu apa yang kumiliki, agar sudut hatiku yang dingin menjadi hangat kembali. Agar hatiku tak mati lagi.

Maafkan aku, kawan. Aku berharap terlalu banyak kepadamu. Tingkah lakumu, senyumanmu, mungkin telah membutakanku beberapa waktu lalu. Tapi kini aku tak berharap lagi, aku hanya ingin memberimu. Aku mungkin tak akan pernah bisa tersenyum kepadamu. Kau tau kenapa? Aku khawatir itu akan melambungkanku lagi, membutakanku lagi.

Mulai saat ini aku mencoba berubah. Mungkin sudut hatiku sudah tak sehangat dulu lagi, saat keangkuhan itu masih menguasaiku. Kali ini aku akan berpikir realistis. Ya.

What you need to find is someone who will never let you go. No, I never let you move

You're handsome and crazy too
Maybe that's why I fell into you
Even though you would pretend to be
You were never with me

Cause you took the air I'm breathing
You stole my heart
I don't know what happened
But we fell apart
You left me with the broken heart

I really thought you were the one
It was over before it begun
It's so hard for me to walk away
But I know I can't stay

Ragu sesaat. Kembali, menguap. Bagiku sudah jelas.

Comments

Popular Posts